jika kau berada di sana dan memikirkan aku
serta berharap aku segera melangkah
menghapus jejak air mata kerinduan yang tak sirna
maka wujudkan sungai
yang mengalir di antara bebatuan
atau suara burung hantu
dan riak air yang bergetar lembut
bahwa aku menyusup
dalam tiap kata dan celah jari-jarimu yang anggun
membawa buah ceri yang manis
hingga tulisan yang kau pegang
lalu kau gores bisa kau rasakan
semanis ceri yang dipetik
para penjaga hutan yang selalu setia
pada puisi.
jemput dan hapus kerinduanmu itu
dengan sekali pelukan
lalu kita akan mengalirkan rasa
dengan perasaan yang paling ceria
membuat dewi asmara pun terpesona
dengan cemburu yang menyala
dan menyusup pada relung hatinya.
Tag Puisi: alam dan cinta
-
Sungai yang Mengalir Rindu
-
Senyum di Ujung Jalan
daun-daun bergetar lembut di tiup angin.
Dari balik reruntuhan batu, bunga mekar
: serangga berdesir
warna-warni sayapnya, kupu-kupu menari di udara.
Kuingin hujan reda, kuingin embun pagi jatuh ke tanah,
karena sinar menyentuh bumi maka tumbuh subur.
Di bawah langit cerah berhiaskan pelangi.
Didera angin dingin tubuh-tubuh lelah: ilalang.
O, Beringin yang menjulang tinggi, cabik langit kelabu.
Tak peduli akarnya terendam air, tegak berdiri.
Sang bulan menutup diri
: kesunyian datang berbisik
hamparan bukit mengapit aliran sungai,
bersemayam telaga biru temani sang bintang.
Di atas gelombang cahayanya bergetar,
(kurasa) mereka saling memandang, atau
: mungkin saja terjebak rindu
aku, ingin seperti mereka: cemburu.
