Di ujung jalan yang basah, aku terpaksa menerima
kekalahan yang tak pernah kuinginkan. Dulu, dia yang
ku beri warna dengan segala kekurangan, kini
melangkah jauh, menembus kabut yang pekat,
sebagai pengorbanan untuk hati yang telah rela
menyerahkan semua janji pada hujan yang tak kunjung reda.
Apakah ini tanda bahwa aku terikat pada
langit kelabu yang tak pernah memberi harapan?
Bahwa di setiap detak jantungku,
tersimpan serpihan kehilangan yang tak terhapus.
Akankah semua benih kerinduan yang kutanam,
berubah menjadi semak duri yang merobek,
dengan setiap cabang yang merayap? Siapakah yang
lebih mengerti takdir yang berbisik,
memiliki bara dendam lebih menyala dari
api-api cinta yang telah padam? Musim apa
sekarang yang bisa kutunggu, sementara
setiap waktu menjauh dalam putaran yang tak pasti?
Laguku, datanglah, aku butuh sentuhan
doamu untuk menyembuhkan luka-luka di dadaku,
yang setiap orang enggan menatapnya. Maafkan aku
karena tak pernah bisa melahirkanmu lagi,
sebab senar-senar jiwaku telah rapuh,
diterpa angin kepergian yang tak tahu kapan
akan kembali, meski hanya untuk sekali lagi
menguji dengan pisau tajam yang tersembunyi
di balik sayap yang pernah kuagungkan.
