Di setiap bait sajak terukir rasa yang mendalam;
Yang teramat menggoda dan menawan bagi seorang pelaut;
Yang seharusnya telah lama berlayar dalam kesunyian samudera;
Dalam larik-larik sajak ia lukiskan setiap keindahan;
Yang terpancar dari sinar bulan dan gelombang laut;
Seiring pertanyaan akan sepi yang menyelimuti jiwa;
Lalu ia putuskan untuk kembali menelusuri gelombang;
Membuka lebar-lebar jendela hati yang telah lama tertutup;
Seperti ombak yang terus berdesir;
Walau tiada satu pun bintang yang tahu rahasia kita;
Dan pelaut itu kembali menulis sajak;
Akan tiba saatnya jua;
Ketika rasa terikat di pelukan lautan;
Yang secara samar mempermainkan takdir;
Laksana sebuah lukisan abstrak yang penuh makna;
Laksana sepenggal melodi ombak tak terduga;
Seorang penyair melantunkan sajak rindu dalam hembusan angin;
Ia ingin menjadi seberkas cahaya, untuk terus bisa menerangi gelap malam;
Ia ingin menjadi embun pagi, agar mampu menyegarkan jiwa yang lelah;
Ia ingin menjadi aliran sungai, agar bisa menghapus segala duka dan luka;
Namun ia bukanlah siapa-siapa yang memiliki kendali atas lautan;
Ia hanyalah seorang pelaut yang selalu ada dan mendamba lautan;
Berapa banyak lagi sajak rindu yang akan lahir dari penghayatan rasa pelaut ini?
Berapa banyak lagi lautan yang akan lahir dari rahim sajak pelaut ini?
Atau mungkin wajah penuh kerinduan dan harapan yang akan terlukis di wajah pelaut ini?
Atau bisa jadi hati penuh gelora yang akan ada di hati pelaut ini?
Tapi bukankah kita terlahir untuk sebuah tujuan;
Seperti cinta yang tumbuh bersama dengan gelombang waktu yang tak terduga;
Lautan itu merupakan samudera yang mengalir di hati pelaut ini;
Pelaut itu pun menghentikan sajaknya;
Melangkah menghitung detik yang menimbun kerinduan tanpa suara;
Memang tak perlu lagi ada tanya tentang berapa, apa dan bagaimana;
Hingga waktu bertanya dalam bahasanya, sampai di manakah kapal ini akan berlayar?
Memecah kerinduan menuju pelabuhan asal.
Tag Puisi: harapan di tengah badai
-
Sajak Sang Pelaut
