Aku guncangkan cangkir di genggaman, menolak beku di bibir pagi, menuntut panas dari kopi yang telah menyerah
Aku seret waktu yang melesat di luar jendela, berloncatan bersama dendang murottal subuh yang menusuk udara tipis
Aku retakkan batas antara detik dan debu, menantang sunyi yang merayap diam-diam di sela sorak mesin dan daun
Aku tempelkan wajah pada kaca, mengukur denyut kota yang menari liar dalam peluh, dalam riak suara yang tak pernah selesai
Aku pelintir rasa di lidah, membakar gigil dari kopi dingin, menjeritkan perlawanan pada arus yang mengunci langkah-langkah
Aku tebas ranting-ranting waktu, membiarkan bayang tumbang di sudut ruang, menuntut jawaban dari langit yang tak pernah turun
Aku kibarkan napas di antara sela uap yang membeku, menyusuri celah di mana harapan tersembunyi,
Aku bentangkan tangan ke dinding pagi, merengkuh gema yang mengeras di lorong-lorong sempit,
lalu aku biarkan udara melahap segala suara.
