Hujan yang berirama adalah sahabatku,
Dan aku adalah pendengarnya,
Akhirnya kami terjalin dalam melodi,
Namun kemudian Angin memisahkan langkahku darinya.
Kupergi padanya dengan lembut
Lalu berpisah dengan penuh rasa.
Membisikkan harapan berulang kali.
Aku segera melangkah pelan
Dari balik kelamnya awan
Untuk mengalunkan nada-nada lembutku
Ke pelukan tanah yang basah
Dan kami berpadu dalam harmoni terindah.
Aku sirami kerinduan ini
Dan suaraku memenuhi segenap ruang hatinya
Dia menenangkan jiwaku dan meredakan resah di dada.
Kala senja tiba, kuucapkan janji abadi
Di telinganya, dan dia memelukku penuh rasa
Di hangatnya malam kunyanyikan dia lagu kasih
Diiringi tetes-tetes rindu yang tak henti
Gerakku terhanyut dalam keraguan
Sedangkan dia tetap setia dan tenang.
Ruangnya yang luas meneduhkan kegelisahan
Kala rintik kami saling berpelukan
Kala reda aku berlutut menjamah bumi
Memanjatkan doa
Seribu harapan, aku selalu berjaga sendiri
Menyusut kekuatanku.
Tetapi aku pencinta melodi,
Dan kebenaran cinta itu sendiri megah,
Mungkin keletihan akan menimpaku,
Namun tiada aku akan sirna.
Tag Puisi: kekuatan dalam kelemahan
-
Simfoni Hujan
-
Refleksi di Tengah Hujan
Di bawah rintik, aku berdiri
Menghadapi jendela berembun
Mencari arti di balik derai
Tanpa peduli basah yang menyentuh
Aku seorang wanita,
Apa yang kuinginkan?
Mengapa keraguan membelenggu?
Kata orang, suara lembut bisa mengubah segalanya,
Tapi benarkah itu nyata?
Aku berusaha menerima
Menjadi pemimpin bukanlah hal sepele
Aku ibu yang harus tegar
Aku juga istri yang setia dan berbakti
Aku anak yang patuh pada orang tua
Aku pejuang yang siap berkorban untuk bangsa
