Aku mungkin hanya bisa menyusun bait-bait sunyi
Yang mengingatkanku pada langkah kita yang terhenti
Juga semua nada yang pernah kita nyanyikan bersama
Yang memaksaku untuk terus merindukanmu
Mengapa mencintaimu begitu membingungkan?
Sementara di luar sana orang-orang sibuk berdebat tentang bintang baru,
menemukan inovasi atas rahasia alam semesta,
atau teknologi yang terus melesat.
Sedang aku masih terperangkap dalam kenangan lama, luka yang tak kunjung sirna
Ada benarnya juga
apa yang selalu kita diskusikan selama ini
Mengapa kita harus berjumpa,
mengapa pula kita harus terpisah
Hidupmu melangkah menjauh dari hidupku
dan hidupku melangkah menjauh dari diriku sendiri.
Bisakah aku memandangmu dengan kebencian?
Dengan dendam?
Kau bilang itu cinta,
itulah cinta yang bersinar di mataku,
saat itu adalah luka bagiku.
Tag Puisi: luka yang mendalam
-
Rindu di Tengah Gemuruh
-
Ketika Senja Berbisik
Aku tak lagi tahu cara menulis rasa
pada selembar kertas
yang kau titipkan dengan janji yang samar
pasti dan pelan
terhenti di sudut harapan
kau ubah menjadi embun
yang tak terukur
dengan riuh yang tak lebih gaduh
dari sepi yang kau bawa
bersama waktu yang kelabu
atau cahaya lilin yang mulai redup
menjadi sunyi yang di tepi mana aku berdiri
tak jua aku mampu mengerti.
Mungkin kau ingin pergi
atau sekedar menjauh sejenak
bahkan tak peduli terhadap jeritan hatiku
yang merintih dan terhidang
bagai sajian di meja sebuah desa yang sunyi
desa yang kerlip bintang-bintangnya
pernah kita anggap sebagai tanda
bahwa luka yang dalam mesti dibalut
dengan suara yang lebih lembut dari embun.
Kembalilah, aku hanya akan menanti
sendiri yang dulu pernah menemani
hanya berbeda kali ini
ada cerita yang tak ingin kutoreh
dengan jujur yang tersembunyi
sedang kau tak jua mengenali.
Biarkan kupejam mataku yang lelah
dimana air mata menetes darinya lalu mengalir
di tengah kabut pagi yang menyelimuti
pada jendela kayu lalu memilih untuk pergi
saat mentari mulai bersinar.
Kekasih, mungkin kau lupa satu hal;
bahwa pilihanku tak pernah keliru
memilih peran dalam kisah yang terukir
bagi siapa saja yang ingin mendengar
katup bibirku yang basah merah
menggema rasa yang tak pernah kuabaikan.
