Di ruang kerja ini, napas tersengal,
dinding-dinding mendekat, menekan dada.
Aku dari masa depan melihat ini,
menyaksikan amarah yang tertahan,
menggumpal di sudut ruangan.
Di luar, pohon ketapang berdiri tegak,
daunnya berbisik tenang.
Ruang ini mengurung,
kata-kata terjebak di kerongkongan,
ingin meluap, namun tertahan.
Aku menatap diriku,
menahan diri dalam diam yang panjang.
Pohon ketapang melambai,
seolah berkata, 'tenanglah.'
Di sini, aku berdiri,
dengan napas tersisa,
menghadapi ruang yang mengekang.
Diam bukan berarti kalah,
kadang ia lebih berarti.
Pohon ketapang mengajarkan,
bahwa diam juga bicara
