Di atas tikar ruang tamu, aku duduk
menyaksikan sisa makan malam
terbungkus rapi dalam diam.
Lampu temaram, suara angin
mengisi celah di antara kita
tanpa kata, hanya napas tertahan.
Aku mendengar detik jam berdetak
seolah takut bicara, takut pecah.
Mungkin ada yang ingin diucapkan
tapi tertahan di ujung lidah…
seperti kenangan yang tak diundang
hadir di antara kita yang sepi.
Malam semakin larut, tikar tetap terbentang
sebagai saksi yang tak diakui.
Di sini, aku menemukan akhir cerita
tanpa suara, tanpa tanda tanya.
Hanya ada perasaan yang tersisa…
menemani kehilangan yang akhirnya kuterima.
