Hujan pertama mengetuk atap,
mengalir dalam doa tanpa nama,
membawa aroma tanah yang bangun.
Di bawah papan nama toko yang pudar,
suara air mengisi celah-celah sunyi,
seperti bisikan yang terlupakan.
Kemarau menyimpan cerita lama,
sekarang terhapus perlahan,
oleh tetes air yang tak bertanya.
Namun cinta, tidak menjawab,
hanya membiarkan hujan
membasuh luka yang tak terlihat.
