Di dalam mimpi, bus melaju pelan,
jendela berembun, hujan menari pelan,
aku menatap keluar, samar-samar,
jam dinding berhenti di angka dua belas,
waktu menggantung, seperti perasaan ini,
takut terlihat rapuh di tengah kerumunan.
Deru mesin bus, irama yang menenangkan,
tapi ada resah yang menjalar di dalam,
seperti hujan yang tak kunjung reda,
menyimpan jeda panjang di tengah kalimat,
di luar, jalanan basah, refleksi yang pecah,
aku berusaha menutup rasa khawatir ini.
Di ujung perjalanan, mimpi ini berakhir,
bus berhenti, hujan masih setia menemani,
aku tersadar, tak semua harus sempurna,
bahagia bisa hadir meski tak utuh,
seperti hujan yang tak selalu menyapa,
tapi tetap menyisakan jejak di hati.
