di pagi buta, suara doa menyeruak
mengalun dari pengeras masjid, pelan
aku menulis surat ini, dengan tinta rasa bersalah
kain sarung tergeletak di kursi plastik
seperti aku, menunggu maaf dari waktu
dalam sunyi yang berbisik
aku mengingatmu dalam setiap baris
berharap kata-kata ini bisa menebus
kesalahan yang terukir di hati
namun, subuh mengajarkanku satu hal
bahwa cinta tak harus memiliki
seperti doa yang mengalir, tanpa pamrih
