Di kursi plastik, jaket itu tergeletak,
seperti menunggu, di antara kain sarung
yang terlipat rapi, tak ada suara.
Aku menulis surat pada angin,
berharap pesan ini sampai padamu,
meski tak ada alamat yang pasti.
Waktu berlalu, kerah jaket memudar,
menyimpan aroma yang kian samar,
tapi tetap aku simpan, seperti kenangan.
Di ujung hari, aku menyadari,
bahwa perasaan tak harus tuntas,
seperti jaket itu, yang tetap tinggal.
