Angin membawa aroma tanah basah
menembus celah jendela setengah terbuka,
kuhentikan langkah, sendal jepit di pintu
seperti menahan napas, menahan ingatan
yang tak ingin kuingat lagi.
Di luar, pohon-pohon berbisik resah
satu-satu daunnya gugur, lembut
seperti perasaan yang ingin kusembunyikan,
hawa dingin menyusup ke dalam
seolah tahu rahasia yang ingin kusimpan.
Menutup jendela dengan tangan gemetar
berharap angin tak membawa lebih banyak
kenangan yang terbang bersama debu,
setiap suara langkah terasa berat
seolah memanggil masa lalu.
Namun dunia tetap berjalan,
meski aku mengunci jendela dan pintu
tanpa tanda titik, tanpa akhir
seperti napas menahan tangis,
tak sepenuhnya kita pahami.
