suara alarm menggema, seperti ingatan
terpotong di pagi buta
aku mendengarnya, bisikan pelan
mengajak bangkit dari sela mimpi
tapi jari mematikannya tanpa ragu
di luar, warung kopi pinggir jalan
mengundang dengan aroma yang akrab
seperti percakapan yang belum usai
aku duduk, menghirup pagi
dan mendengar diri ini bicara
setiap tegukan, mengingatkan pada
janji-janji yang tertunda
di antara hiruk pikuk kendaraan
aku mengukur jarak antara
harapan dan kenangan yang tertinggal
kembali pada alarm yang terabaikan
ada getir yang manis dalam penyesalan
seperti cermin yang memantulkan
wajah yang perlahan berubah
menyadari bahwa tumbuh butuh jatuh
