Di sudut kamar, aku duduk,
membaca ulang pesanmu,
satu per satu, kata-kata mengalir,
seperti sungai dingin,
mengalir tanpa henti, tanpa henti,
menyentuh dinding hati yang rapuh.
Suara adzan magrib terdengar,
dari kejauhan, menggema,
mengisi ruang kosong,
di antara jeda pesan,
yang tertinggal di layar,
diam, namun tak sepenuhnya bisu.
Koma, di tempat tak lazim,
menghentikan alur kalimat,
sejenak, memberi ruang,
untuk merenung,
di tengah keramaian sunyi,
yang membalut malam ini.
Di balik kata-kata,
tersimpan makna tersembunyi,
mengalir perlahan,
menyusuri relung jiwa,
hingga akhirnya,
sunyi pun bisa menenangkan.
