Di sudut ruangan, mesin berputar,
membawa aroma deterjen ke udara,
menyusup di antara napas,
aku menyapa namamu dalam doa,
menunggu pesan yang tak kunjung tiba.
Langit kelabu, menanti hujan turun,
seperti harapan yang menggantung,
di antara jemuran yang menari,
di bawah angin yang berbisik,
aku mengirim doa, berharap.
Waktu melarutkan detik, perlahan,
dalam jeda panjang yang hening,
seperti menanti matahari terbit,
di ujung malam yang kelam,
namun pesanmu tetap sunyi.
Di akhir doa, aku tersadar,
tak semua janji harus ditepati,
seperti deterjen yang menghilang,
meninggalkan aroma, lalu pergi,
menyisakan ketenangan di hati.
