Di halte sepi kita berdiri,
kabel listrik melintang di udara,
menghubungkan tiang-tiang tua
seperti untaian kata yang terputus
dalam diammu yang tak pernah
meminta jawaban dari angin.
Langit kelabu menggantung rendah,
menyapu pandangan kita
yang terjebak antara detik
dan percakapan yang tak terjadi.
Aku hanya saksi, tak diakui,
mengukur jarak antara kita.
Ada keberanian dalam sunyi ini,
bukan karena lantang suara
tapi karena keberanian menunggu
tanpa menuntut kata-kata
yang mungkin tak pernah akan
mengisi ruang di antara kita.
Di bawah kabel listrik yang sama,
kita biarkan waktu berbicara,
mengalir lewat sela-sela
seperti hujan yang tertahan awan.
Dan ketika akhirnya pergi,
waktu menjawab tanpa dipaksa
