puisi tentang menerima keadaan
-
Empty Balcony at Dusk
The wind stirs softly, whispers
across the empty terrace, brushing
past the shoes lined like soldiers.I speak to the wall's silhouette,
words almost misspelled in thought,
as if they too have given up.Breathing matches the pulse,
each exhale a quiet resignation,
finding grace in silent surrender.Yet, as I pause, the world moves,
…
-
Bayangan Motor di Jendela
Di halte, kita duduk berdua, diam
diam menunggu bus yang tak kunjung datang
datang dan pergi, motor lewat cepat
cepat berlalu, meninggalkan jejak samarSahabat, kau tak banyak bicara
bicara dalam sunyi, menatap jauh
jauh ke arah jalan yang sepi
sepi seperti hatimu yang tertutupKita menunggu, waktu terasa lambat
lambat mengalir, seperti rindu yang
…
-
Papan Nama Toko yang Pudar
Di bawah papan nama toko yang pudar,
aku mendengar doa tanpa suara,
pesan yang tak sempat terucap,
terhapus dalam getir yang tenang.Kata-kata tersangkut di ujung jari,
menyelinap di antara huruf yang gugur,
seperti daun-daun kering,
jatuh sebelum angin sempat meniup.Di sudut jalan yang sunyi,
waktu berlalu tanpa tergesa,
membiarkan pesan yang hilang,
berbicara …
-
Alarm Pagi di Teras
Alarm berdering, mengusik kantuk
rak sepatu di teras menyaksikan
keletihan yang enggan pergiSatu detik, lalu mati kembali
hening menyelimuti sudut kamar
menjadi bagian waktu yang tak terelak
-
Suara TV di Petang Hari
Dari balik jendela, kulihat
anak-anak berlarian
suara mereka
mengisi senja
seperti TV yang menyala
menyuarakan keramaian
mengusir letih yang menari.Menyalakan TV, hanya untuk
mendengar suara
yang tak kukenal
mengisi ruang kosong
dengan irama napas
yang terus bertahan
biarkan waktu berbicara.
