puisi tentang mengampuni diri
-
Langkah di Depan Pintu
Di ruang tunggu sepi, aku duduk diam
Baju seragam sekolah tergantung di kursi
Langkah-langkah berhenti di depan pintu
Membawa pesan yang tak terucapMenghitung detik yang berlalu perlahan
Dinding putih jadi saksi bisu
Ada rasa yang harus kuampuni
meski tak pernah dimengerti
-
Suara dari Televisi
Di sudut ruangan, televisi menyala
mengisi celah sunyi dengan suara orang
yang tak kukenal, tapi akrab di telinga.
Asbak penuh abu rokok, saksi bisu
dari malam-malam panjang, meresapi
kehilangan yang tersenyum samar.Kursi tua menampung tubuh lelah,
mengamati dunia lewat layar kecil.
Seolah hidup ini hanya tontonan
yang tak pernah benar-benar kuikuti.
Suara-suara itu mengalun …
-
Balon di Langit Senja
Di warung kopi pinggir jalan,
kulihat balon terbang perlahan,
menghilang di antara awan.Genggaman yang terlepas,
seperti janji yang pudar,
dalam hembusan napas kita.Kita saling bercermin,
mengampuni tanpa lupa,
dalam senja yang tenang.Kepergian balon itu,
meninggalkan jejak samar,
perasaan tak harus tuntas.
-
Pesan yang Tak Terkirim
suara anak-anak main petak umpet
mengalun dari kejauhan,
menyusup ke dalam kata
yang tak sempat sampai.seolah menyapa,
dalam jeda yang hening,
di ujung jari
pesan terhenti.mungkin kau tak pernah tahu,
dengan diam yang menguar,
aku belajar mengampuni
tanpa perlu dimengerti.
-
Cahaya Kulkas di Tengah Malam
Di tengah malam, pintu kulkas terbuka
Cahaya putih menari di wajahku
Seperti mimpi yang terpotong,
menggantung di antara
rak sepatu di teras
dan dengkuran malam.Langkah kaki samar,
meraba-raba rasa lapar
yang manis namun getir,
menggulung dalam keremangan
seperti ingatan
yang tak selesai.Malam menguap,
menyisakan setitik
keraguan di sudut mata.
Aku berdamai
dengan diri …
