Di sudut ruangan, televisi menyala
mengisi celah sunyi dengan suara orang
yang tak kukenal, tapi akrab di telinga.
Asbak penuh abu rokok, saksi bisu
dari malam-malam panjang, meresapi
kehilangan yang tersenyum samar.
Kursi tua menampung tubuh lelah,
mengamati dunia lewat layar kecil.
Seolah hidup ini hanya tontonan
yang tak pernah benar-benar kuikuti.
Suara-suara itu mengalun lembut,
mengisi kekosongan, menenangkan.
Malam terus merangkak, membawa damai
pada jiwa yang terus merindu.
Aku tersenyum pada diri sendiri,
memaafkan luka yang tak perlu dimengerti.
Hanya suara dari televisi yang tersisa,
mengampuni kesendirian dengan lembut.