Di balik jendela, suara langkah mereda,
menyusuri tangga kayu yang berderit pelan.
Hujan di luar menari di atas genting,
seperti irama yang menenangkan hati.
Di halaman, jemuran bergoyang pelan,
mengingatkan pada hari-hari yang berlalu,
tanpa jejak yang tertinggal.
Kau pergi, katamu hanya sementara,
tapi langkah itu terasa jauh.
Di dapur, teko masih menyimpan bekas,
kopi yang kita seduh di pagi yang lalu.
Aku dengar detik jam berdetak,
mengisi ruang yang kau tinggalkan,
dengan bisikan yang hampir pudar.
Di antara dinding dan langit-langit,
ada cerita yang tak terucap,
mengisi kekosongan dengan harapan.
Saat malam menyelimuti kota,
aku tahu, sunyi ini tak selamanya sepi.
Seperti jemuran yang menunggu kering,
sunyi pun bisa menenangkan
