Di lorong kantor yang sepi, aku menunggu,
kursi-kursi berderet, kosong dan dingin,
detak jam terdengar jelas, memecah sunyi,
papan nama toko di seberang, pudar warnanya,
seperti cerita lama yang nyaris terlupa
Langit-langit putih, menatapku tanpa ekspresi,
detik melambat, menggantung di udara,
sepatu-sepatu berlalu, meninggalkan jejak samar,
pintu tertutup rapat, menyimpan rahasia,
aku menanti, mencari makna di balik waktu
Pikiranku melayang, ke masa lalu yang jauh,
di mana harapan dan mimpi berkumpul,
seperti debu yang menari dalam sinar matahari,
mengisi ruang kosong di antara napas,
menggugah rasa lapar akan arti
Dalam ketidakpastian, aku akhirnya tersenyum,
menyadari bahwa ketenangan hadir,
bukan dari jawaban, tapi dari perjalanan,
papan nama pudar itu, saksi bisu harapan,
membisikkan tenang di lorong yang tak pasti
