Di balik suara kereta yang menjauh
seorang ibu berkisah tentang pagi
dan kaleng biskuit bekas di tangannya
Memecah sunyi dengan benang pengharapan
menjahit waktu yang tak pernah tiba
menemukan cara untuk merelakan
Di balik suara kereta yang menjauh
seorang ibu berkisah tentang pagi
dan kaleng biskuit bekas di tangannya
Memecah sunyi dengan benang pengharapan
menjahit waktu yang tak pernah tiba
menemukan cara untuk merelakan
Di sudut rumah, kaleng biskuit bekas
jadi tempat benang kusut dan jarum hilang,
menunggu kucing yang tak mau pulang,
pintu terbuka, malam terasa panjang.
Di sela doa, waktu mengalir perlahan,
perlahan menghapus jejak kaki di tanah,
tanah yang basah oleh hujan semalam,
semalam berlalu, membiarkan waktu bicara.
Kucing hitam itu berlalu di jalanan sepi,
aku memandang dari jendela yang tinggi,
langit merah muda merangkak pelan,
suara adzan magrib memanggil dari kejauhan,
seolah mengingatkan pada batas waktu,
tapi kucing itu terus berjalan tanpa ragu
Di balik tirai, harapanku mengintip,
kucing itu menoleh, sejenak berhenti,
lalu melanjutkan langkahnya,
aku tersenyum, paham akhirnya,
tidak semua harus pulang,
tidak semua harus dimenangkan
