Pagi menguap di balik jendela,
angin dingin mengetuk lembut,
tangan meraba kunci,
mengunci pintu rumah,
seolah menutup rasa sepi.
Kaleng biskuit usang di meja,
menyimpan benang-benang harapan.
Di ruang tamu, kursi tua berderit,
mengisahkan cerita yang tak terucap.
Gemetar menolak selimut,
gemericik air dari keran bocor,
mengisi celah keheningan pagi.
Langit kelabu menggantung,
menunggu matahari mengintip malu.
Jahit-menjahit di atas karpet,
benang kusut terurai pelan.
Di balik pintu terkunci,
sepi merayap,
menyusuri sudut-sudut hati.
Bahagia mungkin tak selalu utuh,
seperti kaleng biskuit berisi kenangan.
