Dalam gelas bening berembun,
kopi dingin menunggu,
percakapan itu tiba
menyusup lewat celah pintu.
Suara-suara mengalir pelan,
menyentuh pagi yang diam,
tanpa satu jawab dariku.
Langit masih memeluk kelam,
dan kata-kata mereka
menjadi angin di telinga.
Gelombang rindu terpecah,
di antara uap yang lenyap.
Aku mendengar tanpa suara,
menyimpan tanya dalam dada.
Gelas bening itu saksi,
dinginnya kopi mengingatkan
bahwa waktu terus berjalan.
Rindu adalah rasa pahit
yang tak perlu kembali
pada cangkir yang sama.
Biarkan ia mengalir pergi.
Di ufuk timur,
cahaya mulai merayap,
menghapus jejak malam.
Rindu tak lagi wajib pulang,
seperti kopi dingin
yang tak perlu hangat,
cukup dinikmati hingga akhir.
