Denting langkah berhenti di depan pintu,
aku mendengar suara yang tak asing,
dari dalam, suara itu berbisik,
mengalun seperti lagu lama,
kursi tunggu di puskesmas,
menjadi saksi bisu perasaan ini.
Langit di luar meredup perlahan,
suara-suara digantikan sunyi,
aku berbicara pada diriku sendiri,
dalam keheningan yang mengalir,
air mata lama menetes lagi,
mengisi ruang yang kosong.
Di balik pintu, ada cerita usang,
yang tak pernah terucap sepenuhnya,
aku mendengar setiap detik berlalu,
seperti detak jantung yang tenang,
kursi tunggu ini menjadi teman,
dalam setiap jeda perenungan.
Saat langkah itu pergi tanpa jejak,
aku menerima tanpa alasan,
kehilangan yang tak pernah dimengerti,
seperti daun jatuh di musim gugur,
menerima dalam keheningan,
tanpa perlu bertanya mengapa
