Di seberang jendela, angin pelan berbicara,
di sela-sela daun, ia menghitung bisik.
Waktu terasa melambat, mengendap di sudut kamar,
menggenggam tangan dingin, menanti jawaban.
Keadilan duduk di kursi tua, mata terpejam,
seolah mendengar derit kayu yang tua,
namun tetap saja, tak ada kata yang keluar.
Di meja kayu, koin-koin berkilauan,
berbaring di antara berkas-berkas lusuh.
Jari-jari lentik menari lembut,
menghitung satu demi satu, berharap lebih.
Mereka berbisik di antara tumpukan kertas,
menyelisik nilai yang tak terucap,
sampai suara jam berdetak, memecah sunyi.
Langit malam mengintip di celah tirai,
menyusuri jejak cerita yang tak terungkap.
Lamunan membisikkan rahasia di telinga,
seperti air mengalir, mencari celah.
Tapi siapa yang menyimak dalam gelap?
Dalam lubuk hati, ada gema yang hilang,
menari di antara keping-keping mimpi.
Di pojok ruangan, bayangan menari,
berputar pelan dalam irama yang tak pasti.
Wajah-wajah samar berkelebat dalam ingatan,
meninggalkan jejak yang lembut namun tegas.
Hati bergeming, mencari sudut tenang,
tapi di antara semua bisik,
mungkin, senyum itu sudah cukup.
