Aku tak lagi tahu cara menulis rasa
pada selembar kertas
yang kau titipkan dengan janji yang samar
pasti dan pelan
terhenti di sudut harapan
kau ubah menjadi embun
yang tak terukur
dengan riuh yang tak lebih gaduh
dari sepi yang kau bawa
bersama waktu yang kelabu
atau cahaya lilin yang mulai redup
menjadi sunyi yang di tepi mana aku berdiri
tak jua aku mampu mengerti.
Mungkin kau ingin pergi
atau sekedar menjauh sejenak
bahkan tak peduli terhadap jeritan hatiku
yang merintih dan terhidang
bagai sajian di meja sebuah desa yang sunyi
desa yang kerlip bintang-bintangnya
pernah kita anggap sebagai tanda
bahwa luka yang dalam mesti dibalut
dengan suara yang lebih lembut dari embun.
Kembalilah, aku hanya akan menanti
sendiri yang dulu pernah menemani
hanya berbeda kali ini
ada cerita yang tak ingin kutoreh
dengan jujur yang tersembunyi
sedang kau tak jua mengenali.
Biarkan kupejam mataku yang lelah
dimana air mata menetes darinya lalu mengalir
di tengah kabut pagi yang menyelimuti
pada jendela kayu lalu memilih untuk pergi
saat mentari mulai bersinar.
Kekasih, mungkin kau lupa satu hal;
bahwa pilihanku tak pernah keliru
memilih peran dalam kisah yang terukir
bagi siapa saja yang ingin mendengar
katup bibirku yang basah merah
menggema rasa yang tak pernah kuabaikan.
Tag Puisi: sepi yang menyelimuti
-
Ketika Senja Berbisik
-
Sisa Angin
angin malam berbisik lembut
menggugurkan harapan yang tersisa
ku tatap bintang yang kini redup
ku dengar suara angin yang berkeluh kesah
ia merindu
merindu akan segala cerita
yang menggores jiwa
demi ia, ia yang tak mendengar
suara hati yang kini merintih
rindu yang kini berhembus
membawa kembali
kembali pada saat-saat indah
rindu yang datang dengan setiap desah
kenangan yang pernah terukir
kini terbang
membawa semua cerita itu pergi jauh
yang membuat ku kembali terdiam
terdiam dengan rindu yang menyentuh jiwa
kini semua seakan hampa
kini sepi pun menenggelamkan segala harapan
tak lagi ada harapku seperti cerita lalu
cerita bersamamu yang kini hanya menyisakan rindu
