Menunggu di depan pintu besi,
catatan lama di tangan,
kata-kata terlepas
seperti debu di sudut ruangan.
Kipas angin berdecit,
mengisi jeda panjang.
Waktu melarut,
jarum jam berputar malas,
di antara kalimat yang pudar.
Ada suara langkah,
tapi tak pernah sampai,
menyisakan detak yang sama.
Di sini, di lorong sempit,
pintu tak juga bergerak,
aku membaca kembali,
menyusuri garis-garis tinta,
seperti menanti sesuatu,
yang tak lagi ada.
