Menjelang malam, pesan terakhir
di layar, sunyi tak bertepi
genteng bocor, tetes
jatuh di ember, berirama
seperti detak waktu
yang tak mau lupa
meski sudah diampuni.
Kata-kata, berbaris rapi
di benak, mengisi ruang
dengan jeda panjang, sunyi
menciptakan bayang samar
di dinding kamar
aku menunggu, berharap
air tak lagi menetes.
Dalam mimpi, suara
ember penuh, air meluap
menyentuh lantai dingin
dan aku terbangun
dengan lembut, menerima
bahwa esok masih ada
meski malam ini basah.

Leave a Reply