Butir embun menetes di dedaunan..
Diam-diam menyimpan rasa yang dalam..
Menyentuh hati yang terluka..
Keindahan hanya bayang-bayang yang samar..
Tag Puisi: harapan yang sirna
-
Embun Kesedihan
-
jeritan dalam sunyi
di tengah hening pagi
yang selalu menyapaku..
dalam keraguan jiwa..
yang terperangkap dalam rasa.
aku terkurung oleh diriku
aku terjebak dalam kesepian.
terdengar bisu di antara cahaya..
ditemani sepinya hari
dengan kesedihan..
ku ingin raih harapan itu
harapan yang samar
harapan yang menjeratku..
harapan yang membuatku terbuai olehnya..
harapan yang telah ku jalin, dengan penuh usaha..
tetapi..
kenapa kau ambil semua dariku..
kenapa kau alihkan semua jalanku..
kenapa…
kenapa seolah kau tak peduli padaku.
teman.. impianku layu karenamu..
impian yang telah ku siram
dan tinggal menunggu mekarnya nanti..
ke manakah sahabatku yang dulu.
sahabat yang menuntunku..
menuju cita untuk bersinar.
namun kini, hanya tersisa
cita yang hampa.
-
Hujan di Tengah Malam
Hujan menari di atap
Seperti detak jantung yang bergetar
Rasa ini hancur berkeping-keping
Cinta yang hilang dalam kelam malam
Bahkan rintiknya deras
Mengguyur jiwa yang merana
Kapal-kapal harapan tenggelam
Orang-orang yang berlari tak berdaya
Hujan sedang merindu sayang
-
Jejak yang Hilang
Di tengah hutan sunyi malam ini,
apa angin juga merindukan langkah kita?
Atau hanya khayalku yang berkelana?
Aku pun ragu akan semua ini.Jiwamu yang melesat jauh menggores hatiku,
terlalu dalam untuk kuhadapi.
Menahan rasa yang telah terikat padanya,
dan takkan pernah kembali padaku.
-
Di Balik Hujan yang Redup
Di ujung jalan yang basah, aku terpaksa menerima
kekalahan yang tak pernah kuinginkan. Dulu, dia yang
ku beri warna dengan segala kekurangan, kini
melangkah jauh, menembus kabut yang pekat,
sebagai pengorbanan untuk hati yang telah rela
menyerahkan semua janji pada hujan yang tak kunjung reda.
Apakah ini tanda bahwa aku terikat pada
langit kelabu yang tak pernah memberi harapan?
Bahwa di setiap detak jantungku,
tersimpan serpihan kehilangan yang tak terhapus.Akankah semua benih kerinduan yang kutanam,
berubah menjadi semak duri yang merobek,
dengan setiap cabang yang merayap? Siapakah yang
lebih mengerti takdir yang berbisik,
memiliki bara dendam lebih menyala dari
api-api cinta yang telah padam? Musim apa
sekarang yang bisa kutunggu, sementara
setiap waktu menjauh dalam putaran yang tak pasti?Laguku, datanglah, aku butuh sentuhan
doamu untuk menyembuhkan luka-luka di dadaku,
yang setiap orang enggan menatapnya. Maafkan aku
karena tak pernah bisa melahirkanmu lagi,
sebab senar-senar jiwaku telah rapuh,
diterpa angin kepergian yang tak tahu kapan
akan kembali, meski hanya untuk sekali lagi
menguji dengan pisau tajam yang tersembunyi
di balik sayap yang pernah kuagungkan.
-
Di Ujung Senja
kuharap kita dapat bertemu di ujung senja
seperti embun yang tak jatuh dan suara yang tak terucap
mengalir lembut, menari seirama alunan hati
sekelebat cahaya samar
aku menulis di atas pasir basah berbisik lembut
bola mataku terantuk bayang-bayang menanti
kemarin dan hari ini telah hampa dan sepi
esok semoga tak lebih kelam menyelimuti
kucari jejakmu di balik awan menanti mentari
kuangkat harapan bagaimana datangnya sinar pagi
kubelah cakrawala biar kapal pelaut terombang-ambing
aku sadar rambutku sedikit berantakan, walau pikiran tak jernih
kemanapun langkahku melangkah jauh
kau tak akan pernah ada dan hadir dalam hidupku.
-
Karang yang Terlupakan
Jika telah sirna rasa
Bila tak lagi terbayang
Biarkan pergi
Hapus jejak yang tersisa
Jangan kau simpan
Satu harapan
Seribu luka
Sepenggal cerita
Yang pada akhirnya
Yang pada ujungnya
Itu adalah karang
Yang selalu melukai
…
-
Menyusuri Jejak yang Hilang
Biarkan kenangan berlayar di lautan tanpa batas
karena harapan, taruhan terukir dalam pilihan
-
Embun Pagi yang Hilang
Tiada yang lebih menyejuk;
Selain desiran embun di pagi yang sepi;
Nada tetes harapan yang terpendam;
Menanti sinar mentari menyapa bumi;Tiada yang lebih menggoda;
Selain rasa embun di pagi yang hening;
Kesegaran alam yang membelai hatiku;
Menguatkan rasa rindu di sudut jiwa;Namun tiada yang lebih menyakitkan;
Selain kepergian di balik embun pagi;
Akar-akar kenangan yang terbenam dalam tanah;
Membiarkan cintaku terbang tak terjang di pagi yang hilang.
-
Jejak yang Hilang
Runtuh semua harapan
Dari langkah yang tak terduga
Namun dampaknya mendalam
Terlihat sepele tapi menghancurkan
Langit cerah
Kini tertutup awan kelabu
Bunga yang mekar indah
Kini layu tak berseri lagi
Api yang membara
Terus melahap
Khalayak yang tak berdaya
Mimpi yang sirna
Ribuan jiwa terpuruk
Tangis yang menggema
Kesedihan tak berujung
Bagai beban di puncak
Yang tertekan dalam kegelapan
Bagai pemandangan yang hancur
Hamparan pasir
Kering dan tandus
Telah berubah menjadi debu
Tak terlihat jernihnya sinar
Tak terlihat kehidupan disana
Mereka pergi mencari harapan
Jangan salahkan!
Bila mereka berontak
Menggigit tangan yang menyakiti
Hingga menciptakan kerusakan
Mereka berlari mencari kehidupan
Kehidupan yang telah direnggut
Oleh jejak-jejak yang tak bertanggung jawab
Sungguh derita bagi makhluk-makhluk disana
-
Di Ujung Senja
Hari ini terasa kelam,
Malam menjemputku,
Kupu-kupu berterbangan,
Seperti harapan yang terbang jauh,
Apa yang bisa kulakukan,
Sungguh sangat menyedihkan,
Ya, sangat menyedihkan,
Apalagi kita terpisah waktu,
Hanya doa yang bisa kupersembahkan,
Untuk kebahagiaanmu.
-
Jejak di Langit
keterasinganmu sering menghapus jejak
yang kutoreh dalam hening malam
mengalirkan setiap detak jantungku
saat mengingat senyummu yang kau ukir
pada langit biru dengan bintang terindah
yang selalu menyiram kisah yang kutanam dalam bait
kuakhiri sajakku bukan karena tak peka
menyimak keadaan, maaf, berita datang terlalu mendesak
menjadi alasan mengapa sinyal yang kutinggalkan
berakhir dengan terlalu nyata
menghangatkan setiap relung jiwa
menyudahi dirimu dalam ingatan
hadirlah dengan seribu pahlawan di sampingmu,
hadirlah dengan ribuan cahaya di balik pesonamu
dan takkan mundur aku dari para pejuang yang menyusup
pada setiap helaian rambut dan desah napasmu
akan kupadamkan kenangan yang kau gores
melalui embun pagi yang menetes di kedua matamu
yang sering membuat para pahlawan terjatuh di medan perang
dengan cepatnya panah yang akan membakar bumi;
dengan api dari jiwa yang tak pernah padam
dan betapapun aku tak diinginkan dunia,
dengan mahir, aku mampu memadamkan hasrat
meski masih serupa benih harapan cukup dengan seuntai cerita
tentang redupnya bulan sebagai tanda bahwa
selalu ada kekuatan untuk menghapus sajak-sajakku
bagi para dewi penghuni angkasa
maka, akan kuterima dengan tangan terbuka
dengan rasa yang paling lapang dalam dada
sumpah serapah seluruh umat manusia
karena akulah Ardalepa; pahlawan abadi
yang hanya akan mati karena keinginanku sendiri.
-
Kekosongan yang Menghantui
Pengecut!!!
Ujarku dalam hati…
Karena aku berani merindu tapi begitu takut akan kehilangan…
Dan kini waktu semakin sulit untuk dipahami,
Seperti harapan yang kadang pudar lantas membisu…
Dan sepasang tangan hampa itu aku,
Yang tak lelah selalu mencari jejakmu…Sejenak tadi,
Selimuti senja mengingatkan akan tawamu…
Jika saja,
Seandainya,
Bila mungkin,
Masih bisakah,
Sudahlah! rindu ini masih terjaga untukmu…
Dan seribu alasan yang tak dapat aku ungkapkan,
Mengapa padamu rasa ini harus kupersembahkan…
-
Di Ujung Senja
Dan pada akhirnya,
Takkan ada lagi lagu-lagu harap,
Menyadari kenyataan;
jika selama ini hanya berkelana dalam cahaya senja,
seseorang itu pergi menutup lembaran,
separuh jiwanya kini terbenam dalam bayang-bayang waktu,
dan separuhnya lagi menatap hari baru.
Aku adalah pelukis dan kau hanyalah warna pudar.
-
Benarkah Kita
mungkin kita berdua keliru,,
soal perjalanan ini,,
soal rasa yang terpendam,,
soal kita yang terpisah,,
kenapa aku menyayangimu,,
lalu apa lagi,,
terus kamu pergi menjauh,,
dari sini,,
sungguh tak pernah terbayang,,
hingga malam menutup hariku dengan dinginnya,,
padahal aku ingin kau ada di sampingku selamanya
