Aku melangkah kembali
Banyak yang tak dikenal
daun-daun bergetar, burung-burung, cahaya
serta embun yang terhampar di pagi yang lain
suara angin telah berganti dan kupunya rasa
juga disinari sinar yang berbeda
Hanya
Kesunyian tetap berdiam
Lebih sunyi aku di lorong-lorong hutan
lebih sunyi pula saat berada di antara
yang menanti dan yang pergi
Telinga kanan masih terpejam
ditarik kerinduan yang sesekali
seterang
petir
1952
Tag Puisi: mencari jati diri
-
Jejak di Hutan Sunyi
-
Jejak di Pasir
Langit senja merona, angin berbisik lembut
Jejak di pasir mengingatkan pada senyummu,
Membuatku terjebak dalam labirin kenangan,
Seolah waktu berhenti, tak ingin pergi,
Lalu ?!
Kemana aku harus berlari ?!
Kemana lagi aku bisa bersandar?
Arrgghh..
Kau telah berhasil !
Yup ! Berhasil menggores jiwa ini !
Yup ! Jiwa seorang pencari makna hidup !
Lalu kau sembunyikan luka itu,
Seolah kau hapus semua rasa sesal,
Seolah kau bintang tanpa cahaya !
-
Kau Embun Pagi, Kau Hujan Malam
Antara embun pagi dan hujan malam
kita selalu bertanya apa makna rasa
antara sahabat, cinta dan musuh
sering terbayang bentuk hubungan itu
kelabu dalam definisi yang samar
Sembilu terbenam dalam jiwa
tercapai mentaliti untuk memahami dunia
terbantu hasrat saat mengenal diri
lebih tepat, “menemukan diri”!
Bukan merendah bukan meninggi
aku mungkin segalanya hanya bukan sesiapa
cuma nama yang tak terucap
atas dasar panggilan semata
kadang terfikir
dimana harga diri yang kupegang selama ini?
Seterusnya ini membawa kepada kelayakan
antara aku, kau dan kita
sememangnya tak tercapai harapanmu
sebab itu aku samakan kau dengan embun pagi
sumber kesejukan yang hilang saat mentari
sebab itu aku samakan kau dengan hujan malam
membasahi jiwa yang merindu ketenangan
Kutafsir kau mudah
Kau embun berkilau
Kau hujan mengguyur
-
Malam yang Terbelah
Aku ingin membagi malam dalam dua sisi seperti halnya bintang berkelip membagi gelap dan bertanya.
Satu sisi lain penuh dengan cahaya fajar
Satu sisi lainnya tanpa sinar dan bisikan sunyi menanti di atas kanvas langit.
Aku membagiku dalam dua jiwa
Aku membaginya di tengah antara cahaya fajar dan dirimu.
Membaginya dengan jendela hati dan ribuan suara muda.
Kau tunjukkan jiwa puisi pada fajar untuk indah dinikmati
Dan jatuh tepat pada sisi malam yang lain.
Pagi ini akan terasa sepi, terjerat antara hiruk pikuk hari-hari di tahun.
Gugur, ia gugur seperti kelopak yang selama ini menjadi selimut ranting jatuh di atas tanah.
Akan kuberitahu pada semua ranting untuk bertahan di antara guguran
Dan lautan ketidaktahuan, menepi antara akar dan jati diri.
-
Jejak yang Hilang
Hingga malam ini aku masih bertanya,
Apa makna dari langkah ini,
Apakah aku seorang pejuang,
Atau sekadar pelintas waktu,
Atau mungkin hanya bayang-bayang,
Yang tak pernah terlihat,
Lalu bagaimana,
Apakah aku harus menjelajah,
Tapi untuk apa?
Semoga aku segera menemukan diriku yang sejati,
Amin.
-
Refleksi di Tengah Hujan
Di bawah rintik, aku berdiri
Menghadapi jendela berembun
Mencari arti di balik derai
Tanpa peduli basah yang menyentuh
Aku seorang wanita,
Apa yang kuinginkan?
Mengapa keraguan membelenggu?
Kata orang, suara lembut bisa mengubah segalanya,
Tapi benarkah itu nyata?
Aku berusaha menerima
Menjadi pemimpin bukanlah hal sepele
Aku ibu yang harus tegar
Aku juga istri yang setia dan berbakti
Aku anak yang patuh pada orang tua
Aku pejuang yang siap berkorban untuk bangsa
-
Jejak di Pasir
dimanapun langkahku berpijak,,
jejakmu tertinggal,,
dimanapun aku bersembunyi,,
namamu terukir,,
aku ingin menjauh,,
aku lelah,,
aku harus bertanya kepada siapa,,
apakah ada jawaban?
tak ada yang menjawab,,
semua bintang bersinar redup,,
dan semua angin berbisik,,
semua hanya ilusi,,
aku ingin mendengar debur ombak,,
tapi apa artinya,,
hanya seperti jiwa yang tersesat,,
tiba-tiba,,
perasaan bersalah menyergapku,,
perasaan ini mengikutiku,,
masih adakah jalan pulang?
lihatlah aku terpuruk dan bingung,,
dengarkan jeritan ini,,
hingga aku kembali padamu,,
mungkin nanti,,
setelah aku sendiri,,
meski segalanya tak sama,,,
tapi semuanya akan kembali..
