Hutan pinus menanti langkahku,
Suara angin berbisik dalam sunyi,
Meski getir harus kutelan,
Syukur menjadi pelita saat gelap,
Kaki ini menapaki jejak tak terduga,
Durinya menggoreskan rasa,
Wajah menahan derita,
Menyebut namaMu dalam hening,
Hati bergetar: “innalillahi wa inna ilaihi raji’un,”
Tag Puisi: mencari makna dalam kesedihan
-
JALAN SUNYI
-
Ruang Hampa
Di tepi danau yang berkilau seperti cermin, aku menulis catatan, namun yang terungkap adalah bayang-bayang yang berlari di antara riak air dan cahaya yang seolah menari.
Sekali-sekali, seekor angsa melintas, mungkin mencari tempat berlabuh.
Untuk mengembalikan fokusku, aku kembali ke lembar pertama catatan itu. Yang terjadi justru lebih dari sekadar kerumitan; wajah-wajah yang mengasingkanku dalam nama harapan dan aku tak lagi mampu menelusuri kembali halaman yang masih bersih di hadapanku.
Barangkali itulah salah satu alasan mengapa kata-kata diciptakan. Sebagai jembatan bagi jiwa yang terluka dan terabaikan.
