Di tepi danau yang berkilau seperti cermin, aku menulis catatan, namun yang terungkap adalah bayang-bayang yang berlari di antara riak air dan cahaya yang seolah menari.
Sekali-sekali, seekor angsa melintas, mungkin mencari tempat berlabuh.
Untuk mengembalikan fokusku, aku kembali ke lembar pertama catatan itu. Yang terjadi justru lebih dari sekadar kerumitan; wajah-wajah yang mengasingkanku dalam nama harapan dan aku tak lagi mampu menelusuri kembali halaman yang masih bersih di hadapanku.
Barangkali itulah salah satu alasan mengapa kata-kata diciptakan. Sebagai jembatan bagi jiwa yang terluka dan terabaikan.
Suaraku di Angkasa
Setiap detik namamu terucap, Di antara 7 bintang yang berkelip,…

Leave a Reply