Embun pagi membawaku pada nostalgia
Menggugah rasa akan kisah yang hilang
Tersenyum mengingat kita yang pernah ada
Terkubur di antara terang sinar mentari
Runtuh dalam jiwa yang ku sembunyikan
Terdiam dalam heningku..
Masih kita yang terindah..
Masih nada lamamu yang merdu
Masih kerinduan itu menggelora
Masih senyummu, tatapanmu, suaramu
Masih kita..
Menyusuri kenangan..
Di tepi danau yang menyimpan cerita
Di antara dedaunan yang menyimpan rasa
Di tiupan angin yang membawamu pergi
Di pelukan hangat yang ku impikan
Di harapan akan kebersamaan
Cinta kah itu..?
Menyusuri kenangan..
Di penyesalan atas kepergianmu
Di hadirmu yang tak terwujud
Di kesedihan yang menanti
Di kekecewaan yang jatuh dalam hampa
Di tangisku yang mengingat kita
Di pilu yang lembut menggores lukaku
Seakan kau tak hargai kesetiaanku
Hingga pedihku ingin melupakan
Hingga aku berharap kita tak pernah ada
Tag Puisi: perpisahan yang menyedihkan
-
Menyusuri Kenangan
-
Kisah di Ujung Senja
Cukup aku menyimpan rasa dalam sunyi,
Lalu menutup semua harapan yang terukir,
Lantas sebaris tanya menghantui pikirku,
Pernahkah namaku terucap di hatimu saat kau jauh dariku?Kau lihat langit yang kelabu itu,
Manakah yang lebih sabar,
‘Senja yang Terluka’ karya Sang Penyair,
Ataukah Senja Rinduku yang membasahi bait-bait saat mengenangmu,Selalu ada alasan,
Mengapa aku ingin tetap menjadi bagian dalam hening do’amu,
Selalu itu tentang sebuah pinta akan kasih dan kerinduan yang takkan pudar,
Jalan ini sepi,
Setelah festival pergi,
Tawa tangis kisah cinta ada di sana,
Meriah tersisa hanya jejak-jejak luka.
-
Karang yang Terlupakan
Jika telah sirna rasa
Bila tak lagi terbayang
Biarkan pergi
Hapus jejak yang tersisa
Jangan kau simpan
Satu harapan
Seribu luka
Sepenggal cerita
Yang pada akhirnya
Yang pada ujungnya
Itu adalah karang
Yang selalu melukai
…
-
Jejak di Langit
keterasinganmu sering menghapus jejak
yang kutoreh dalam hening malam
mengalirkan setiap detak jantungku
saat mengingat senyummu yang kau ukir
pada langit biru dengan bintang terindah
yang selalu menyiram kisah yang kutanam dalam bait
kuakhiri sajakku bukan karena tak peka
menyimak keadaan, maaf, berita datang terlalu mendesak
menjadi alasan mengapa sinyal yang kutinggalkan
berakhir dengan terlalu nyata
menghangatkan setiap relung jiwa
menyudahi dirimu dalam ingatan
hadirlah dengan seribu pahlawan di sampingmu,
hadirlah dengan ribuan cahaya di balik pesonamu
dan takkan mundur aku dari para pejuang yang menyusup
pada setiap helaian rambut dan desah napasmu
akan kupadamkan kenangan yang kau gores
melalui embun pagi yang menetes di kedua matamu
yang sering membuat para pahlawan terjatuh di medan perang
dengan cepatnya panah yang akan membakar bumi;
dengan api dari jiwa yang tak pernah padam
dan betapapun aku tak diinginkan dunia,
dengan mahir, aku mampu memadamkan hasrat
meski masih serupa benih harapan cukup dengan seuntai cerita
tentang redupnya bulan sebagai tanda bahwa
selalu ada kekuatan untuk menghapus sajak-sajakku
bagi para dewi penghuni angkasa
maka, akan kuterima dengan tangan terbuka
dengan rasa yang paling lapang dalam dada
sumpah serapah seluruh umat manusia
karena akulah Ardalepa; pahlawan abadi
yang hanya akan mati karena keinginanku sendiri.
-
Jejak yang Terhapus
Kakinya adalah gelombang yang menghantam
Telinganya adalah deru angin yang menyesakkan
Yang selalu mengoyak jiwaku,
Senyumnya adalah bayang-bayang malam
Yang menyisakan rasa hampa di relung hati.
Tatapan matanya adalah langit mendung.
Dia membiarkan aku terperosok
Dalam samudera kesepian,
Dia pergi tanpa sepatah kata,
Meninggalkan jejak yang tak terhapus,
Dia begitu dingin dan jauh
Menjauhkan aku dari hangatnya cinta.
Ku relakan kau melangkah pergi
Menuju pelukan baru di sana, ku panjatkan
Semoga kau temukan bahagia di sana.
