kau bukanlah bintang
namun sinarmu selalu menarik malam
menjadi lentera yang menerangi jalanku
keberadaanmu adalah alasan
mengapa langit berwarna jingga saat senja, dan
memaksaku menyalakan api
untuk kesekian kalinya, dari
serpihan kayu yang telah lama ku simpan.
Aku hanya terkejut saja
bahwa aku yang telah menjauh
dari pelukanmu yang hangat dalam janji,
masih mampu merasakan hadirmu yang jauh
tetap meyakini cintaku.
Maka aku mohon kepadamu,
berilah harapan kepada sepasang tangan
yang mungkin sedang menulis bait ini.
Atau kita bisa sepakat,
melalui segala yang ada, bahwa Sang Pencipta pun tahu
cintaku takkan pudar oleh waktu hingga akhir hayatku
dan akan ku sambut kau di waktu yang lain.
Tag Puisi: pertemuan yang dinanti
-
Cahaya di Ujung Jalan
-
Sungai yang Mengalir Rindu
jika kau berada di sana dan memikirkan aku
serta berharap aku segera melangkah
menghapus jejak air mata kerinduan yang tak sirna
maka wujudkan sungai
yang mengalir di antara bebatuan
atau suara burung hantu
dan riak air yang bergetar lembut
bahwa aku menyusup
dalam tiap kata dan celah jari-jarimu yang anggun
membawa buah ceri yang manis
hingga tulisan yang kau pegang
lalu kau gores bisa kau rasakan
semanis ceri yang dipetik
para penjaga hutan yang selalu setia
pada puisi.
jemput dan hapus kerinduanmu itu
dengan sekali pelukan
lalu kita akan mengalirkan rasa
dengan perasaan yang paling ceria
membuat dewi asmara pun terpesona
dengan cemburu yang menyala
dan menyusup pada relung hatinya.
-
Jalan Menuju Hujan
Jika hujan adalah harapan,
Maka aku akan menembus kabut tebal,
Untuk meraih pelangi yang kau janjikan.
Sering ku ucap “aku merindukanmu” bukan sekadar ucapan,
Melainkan satu-satunya cara untuk menyampaikan rasa ini padamu.
Kudorong sepeda tuaku bukan karena terburu,
Melainkan ingin segera merasakan hangatnya senyummu.Tutup telingamu,
Rasakan detak jantungmu,
Hentikan keraguanmu,
Lupakan ketakutan,
Tapi entah kenapa kita terjebak dalam badai,
Bukan karena jarak,
Tak juga karena waktu,
Melainkan perjalanan cinta yang tak terduga.
-
Menyusuri Jejak Hampa
apakah ada yang perlu dipertahankan
dari sebuah sunyi?
berjuang tanpa rasa
atau hanya ada sejuk yang terpendam?
bagaimana jika jiwaku lebih merindu
hembusan dari perjalanan yang tak terungkap
hanya untuk memastikan bahwa kita masih ada
lalu berjanji untuk bertemu
di sebuah pagi dan saling mengucapkan rindu?
