Angin membawaku berkelana,,
ombak waktu menembus malam,,
berputar,,
dalam sunyi,,
akar menembus tanah,,
setelah hujan reda,,
nafsu dan harapan,,
cerita ini takkan usai,,
dan takkan henti,,
hingga semua sirna,,
mungkin benar kata sang pujangga,,
Tuhan lelah melihat kita,,
terjebak dalam kesombongan,,
dan berkelakar,,
seperti burung yang tak mengenal sang surya
Tag Puisi: perubahan yang tak terhindarkan
-
Jejak di Pasir
-
Jejak di Pasir
Langkahmu mengukir di pasir pantai,
Suaramu bergetar di antara ombak,
Kau bawa aroma angin yang hangat,
Perubahanmu seperti air yang mengalir,
Kehadiranmu membangkitkan rasa,
Namun aku terpesona,,,sangat terpesona,
Karena jejakmu,,menggugah semua yang terpendam,
Menggali rasa,,,merobek ketenangan,
Hingga terurai.
-
Menuju Cahaya Tak Terpadamkan
Aku yang terdiam,
Terkurung dalam ruang sunyi,
Akrap dengan keraguan,
Batasan mengelilingi.
Semua ini tentang cahaya,
Penyatu segala jiwa,
Setiap yang bernyawa pasti redup,
Menuju sinar abadi.
-
Malam yang Terbelah
Aku ingin membagi malam dalam dua sisi seperti halnya bintang berkelip membagi gelap dan bertanya.
Satu sisi lain penuh dengan cahaya fajar
Satu sisi lainnya tanpa sinar dan bisikan sunyi menanti di atas kanvas langit.
Aku membagiku dalam dua jiwa
Aku membaginya di tengah antara cahaya fajar dan dirimu.
Membaginya dengan jendela hati dan ribuan suara muda.
Kau tunjukkan jiwa puisi pada fajar untuk indah dinikmati
Dan jatuh tepat pada sisi malam yang lain.
Pagi ini akan terasa sepi, terjerat antara hiruk pikuk hari-hari di tahun.
Gugur, ia gugur seperti kelopak yang selama ini menjadi selimut ranting jatuh di atas tanah.
Akan kuberitahu pada semua ranting untuk bertahan di antara guguran
Dan lautan ketidaktahuan, menepi antara akar dan jati diri.
-
Sangkar Angin
Sangkar angin dari dedaunan
Cahaya temaram dalam kerinduan
Kujelajahi jalan setapak berliku
Di antara bayang-bayang waktu
Tenda kudirikan saat senja merunduk
Di pagi hari, terbang tak tentu
Sangkar angin dari dedaunan
Di sini aku berkeluarga dan bercita
Rasa ini takkan pudar, meski datangnya lambat
Aku tak lagi mengejar malam
Biar terucap kata-kata manis embun
Jika menanti yang satu
-
Langit yang Berubah
Senja menjelang dengan lembayung,
Seperti embun pagi yang menguap,
Tak henti-henti menguap,
Saat semua terbuai,
Segalanya bertransformasi,
Sekelompok jiwa merancang yang baru,
Yang keliru jadi biasa,
Yang ganjil jadi lumrah,
Hati-hati sahabat,
Inilah langit yang berubah.
-
Jejak di Pasir
Seseorang melangkah di pantai, seolah ombak takkan pernah menghapus jejaknya.
Seseorang merasa kuat di atas pasir, tanpa sadar bahwa ia terombang-ambing.
Ingatlah, tak ada yang abadi di dunia ini, renungkanlah…
Renungkanlah tentang jejak yang tertinggal, kurangi…
Kehidupan ini bukanlah panggung untuk kesombonganmu.
Kehidupan ini memberimu makna yang lebih dalam…
Engkau bagaikan bintang di langit malam,
dimana cahaya dan gelap saling beradu.
Pahamilah arti perjalananmu di bumi ini…
Kehidupan ini bagaikan lautan yang tak bertepi, dan tak tahu kapan badai akan datang.
-
Bumi yang Bergetar
Seolah langit sedang bersorak
menyaksikan tingkah laku kita
sujud menjadi tanda kesombongan
kejam kini jadi hal yang biasa
Maka bumi bergetar tanpa henti
setelah keadilan berdiri, sinarnya redup tertutupi kebohongan
Di saat itu semua terjadi,
hari terhenti lalu membersihkan diri
