Seharusnya aku sedang menari bersamamu
merasakan irama hangat dalam langkah
menyatukan jiwa mengalirkan rasa
tapi semua tak kulakukan
karena sepatu mu berdebu sekali
kamu belum bersihkan yah???
Seharusnya aku sedang tersenyum padamu
menikmati ceria di wajahmu
seperti dalam film dan drama itu
Tapi semua tak kulakukan
karena ada noda di pipimu
Kamu belum cuci muka yah???
Seharusnya aku sedang menggenggam tanganmu
melepaskan getar-getar harapan
melepaskan rasa dan kerinduan
yang memacu jantung
tapi semua tak kulakukan,
Karena tanganmu dingin sekali
Kamu belum hangatkan yah???
Tag Puisi: puisi tentang harapan yang hilang
-
Seharusnya Berbeda
-
Bintang di Ujung Senja
Tahukah kau berapa lama ku menanti,
Bunga-bunga harapan di tepi lautan,
Dengan sinar kasih di ufuk senja,
Cahaya redup darimu bintang di ujung senja.
Adakah rasa lelah dalam penantian,
Dari jauh kita saling merindukan.
Bintang di ujung senja telah datang,
Menari bersamaku dalam hening malam.
-
Atap Seng di Kala Hujan
Di bawah atap seng, hujan berbisik
Mengetuk-ngetuk, mengisi ruang sunyi
Seperti pesanmu yang tak kunjung datang
Aku menatap layar, berharap ada jawaban
Tapi hanya ada suara hujan, menari di atap
Mengingatkanku pada tatapanmu yang dulu
Saat kita saling melihat, saling merasaRintik-rintik jatuh, menggantikan kata-kata
Nada berubah saat citra berganti
Seolah menegur, mengingatkan kembali
Bahwa tidak semua harus terucap
Ada yang cukup dirasa, meski samar
Seperti pesan yang hilang, tenggelam
Dalam derasnya hujan dan waktuAku memaafkan, meski tak sepenuhnya melupakan
Membiarkan hujan mencuci rasa kecewa
Dan menata ulang harapan yang terserak
Dalam tatapan yang pernah kita bagi
Kini hanya ada atap seng dan suara
Yang mengingatkan bahwa ada yang tak kembali
Namun tetap bisa diterimaHujan berhenti, menyisakan genangan
Seperti kenangan yang tak sepenuhnya hilang
Aku menatap ke langit, mencari jawab
Tapi yang kutemukan hanya awan berarak
Menerima bahwa tak semua harus dimenangkan
Ada kalanya kita harus melepaskan
Dan membiarkan yang hilang tetap menjadi kenangan
-
Angin Sore di Balkon
Di balkon kosong ini, angin berbisik
mengangkat rambut, menyentuh pipi
seolah memanggil namamu,
yang tak lagi menjawab,
diamWarung kopi di bawah sana
dipenuhi tawa dan gelak
sementara aku menunggu
suara yang tak pernah
datangBebas, aku terbang bersama angin
namun tetap merindukan
ikatan yang dulu erat
bahagia tak selalu
utuh
-
Gerimis di Atap Parkir
Gerimis jatuh, tumpah di atap parkir
membawa suara yang tak pernah kau jawab.
Kursi tunggu di puskesmas sepi,
menjadi saksi setia percakapan diam.
Aku duduk, menunggu kata yang tak datang.
Hanya bunyi hujan menemaniku,
mengisi ruang kosong di hati.Setiap tetes membawa kenangan,
tentang kata yang tak pernah terucap.
Aku kirimkan pesan lewat rintik,
mencari jawaban dari langit kelabu.
Angin berbisik, mengusap pipi.
Aku merasa, tetapi tak mengaku,
pada perasaan yang tak mau pergi.Di sudut puskesmas, waktu berlalu,
menggiring detik yang tak beranjak.
Aku menatap langit yang menangis,
mencari arti di balik kabut.
Kursi tua, setia menanti,
seperti aku, yang terus berharap
pada jawaban yang tak kunjung datang.Hujan reda, menyisakan aroma tanah
yang merekah, mengingatkan aku
bahwa menanti adalah keberanian
untuk mengaku pada diri sendiri.
Aku tak sanggup menghapus rindu,
tapi di sini, aku belajar menerima
kelemahan sebagai kekuatan.
