The message lingers, unsent, in digital air
A pause, like the scent of detergent
From the laundry kiloan below
Empathy folds into the fabric of silence
Words dissolve, unneeded, into the ether
For longing does not demand return
The message lingers, unsent, in digital air
A pause, like the scent of detergent
From the laundry kiloan below
Empathy folds into the fabric of silence
Words dissolve, unneeded, into the ether
For longing does not demand return
Di lorong yang panjang, aku duduk menunggu,
Dinding berbisik tanpa suara,
Jam berdetak, seakan tak beranjak,
Langit-langit seng menyambut hujan,
Menghantarkan aroma tanah basah.
Angin menggesek daun jendela,
Menyelipkan dingin di sela jemari,
Mata menatap lantai berdebu,
Menyimak langkah yang tak kunjung tiba,
Sementara pikiran melayang jauh.
Kursi-kursi kosong berbaris rapi,
Menanti cerita yang tak terucap,
Hanya deru mesin dari kejauhan,
Memenuhi ruang dengan nada monoton,
Seperti rindu yang tak perlu pulang.
Di luar, hujan menari di atap seng,
Menghapus jejak-jejak hari kemarin,
Aku tersenyum pada kesadaran ini,
Bahwa rindu bukanlah kewajiban,
Bisa dibiarkan pergi tanpa kembali.
Dalam gelas bening berembun,
kopi dingin menunggu,
percakapan itu tiba
menyusup lewat celah pintu.
Suara-suara mengalir pelan,
menyentuh pagi yang diam,
tanpa satu jawab dariku.
Langit masih memeluk kelam,
dan kata-kata mereka
menjadi angin di telinga.
Gelombang rindu terpecah,
di antara uap yang lenyap.
Aku mendengar tanpa suara,
menyimpan tanya dalam dada.
Gelas bening itu saksi,
dinginnya kopi mengingatkan
bahwa waktu terus berjalan.
Rindu adalah rasa pahit
yang tak perlu kembali
pada cangkir yang sama.
Biarkan ia mengalir pergi.
Di ufuk timur,
cahaya mulai merayap,
menghapus jejak malam.
Rindu tak lagi wajib pulang,
seperti kopi dingin
yang tak perlu hangat,
cukup dinikmati hingga akhir.
