Di lorong yang panjang, aku duduk menunggu,
Dinding berbisik tanpa suara,
Jam berdetak, seakan tak beranjak,
Langit-langit seng menyambut hujan,
Menghantarkan aroma tanah basah.
Angin menggesek daun jendela,
Menyelipkan dingin di sela jemari,
Mata menatap lantai berdebu,
Menyimak langkah yang tak kunjung tiba,
Sementara pikiran melayang jauh.
Kursi-kursi kosong berbaris rapi,
Menanti cerita yang tak terucap,
Hanya deru mesin dari kejauhan,
Memenuhi ruang dengan nada monoton,
Seperti rindu yang tak perlu pulang.
Di luar, hujan menari di atap seng,
Menghapus jejak-jejak hari kemarin,
Aku tersenyum pada kesadaran ini,
Bahwa rindu bukanlah kewajiban,
Bisa dibiarkan pergi tanpa kembali.

Leave a Reply