Di bawah lampu redup, suara gerobak berderak
Menyusuri jalanan sepi, aroma bumbu menggema
Kau duduk di sampingku, bibir terkunci rapat
Langit malam mengawasi, diam penuh tanya
Kata-kata menari di udara, tak terucap
Sementara gerobak terus berkeliling, tak peduli
Kemarahanku mengalir, seperti sungai tertahan
Menunggu pecah, menunggu waktu yang tepat
Namun dalam hening, aku temukan kedamaian
Memahami tanpa perlu kata, tanpa perlu suara
Memaafkan diri sendiri, meski tak dimengerti
Seperti gerobak yang melaju, tanpa beban
