Di bawah langit mendung, menunggu
menunggu ojek datang, pelan
seperti kaleng biskuit bekas
Jahit waktu dengan sabar
jahit dengan jarum tajam
menembus kain hari ini
Dalam cermin, ada bayang
bayang yang tak harus selesai
seperti langit mendung ini
Di bawah langit mendung, menunggu
menunggu ojek datang, pelan
seperti kaleng biskuit bekas
Jahit waktu dengan sabar
jahit dengan jarum tajam
menembus kain hari ini
Dalam cermin, ada bayang
bayang yang tak harus selesai
seperti langit mendung ini
Di depan pintu logam ini, aku menunggu,
detik berderak seperti suara
kabel listrik melintang di udara.
Keheningan menggantung, dingin menusuk,
namun aku berusaha tersenyum,
meski hati berbisik pelan.
Apakah Kau mendengar bisikan ini,
di antara deru mesin dan nafas?
Aku berharap, berharap tak sia-sia.
Pintu tetap tertutup, waktu melambat,
namun aku sadar, di balik semua ini,
penyesalan juga bagian dari tumbuh.
