Kipas berputar, rambutku kering
Aku mendengar adzan dari kejauhan
Ragu mengendap di sela helaian
Angin membawa bisik kehilangan
Aku menyaksikan, tanpa suara
Tersesat, namun kini tahu arah
Kipas berputar, rambutku kering
Aku mendengar adzan dari kejauhan
Ragu mengendap di sela helaian
Angin membawa bisik kehilangan
Aku menyaksikan, tanpa suara
Tersesat, namun kini tahu arah
Di jalan yang ramai, kita berhenti sejenak
Di depan warung kopi pinggir jalan
Aroma menggoda, menyeruak di udara
Menyapa kita yang mencari arah
Tanya pada mereka yang duduk diam
Namun jawaban hanya angin berlalu
Kita tersenyum, meski arah tak tentu
Ada hangat dalam kebersamaan
Langkah kita menyusuri jalan yang salah
Tak ada penunjuk, hanya ragu
Tapi dalam diam, kita mengerti
Bahwa perjalanan ini bukan sekadar tujuan
Di persimpangan, kita berhenti lagi
Sunyi menemani tanpa bicara
Ada ketenangan dalam kekeliruan
Mengerti bahwa sunyi pun bisa menenangkan
Di bus malam yang melaju, aku duduk tenang.
Lalu menyadari dompet tertinggal, tertinggal di kursi.
Suara mesin berderu, mengulang kisah yang sama.
Sendal jepit di dekat pintu, menanti langkah pulang.
Di luar jendela, bintang-bintang berkelip samar.
Ada jeda… dalam pikiran yang beriak.
Mengingat janji yang pernah terucap.
Sendal jepit itu, setia menanti.
Aku mengulang, mengulang langkah yang sama.
Malam menyelimuti, dingin menyusup perlahan.
Mesin terus berdengung, seperti mengejar waktu.
Aku terdiam… dalam kebisingan yang akrab.
Ada rindu yang tak terucap, tertinggal di antara kursi.
Janji-janji yang pernah terucap, kini samar.
Di antara deru mesin, suara hati berbisik.
Sendal jepit itu, tak pernah pergi jauh.
Langkah-langkah yang sama, mengulang cerita.
Malam semakin dalam, membalut segala rasa.
Di luar sana, bintang-bintang masih setia.
Ada jeda… di antara detik yang berlalu.
Mengingat janji yang pernah terucap, kini pudar.
Sendal jepit di dekat pintu, tetap menanti.
Aku mengulang, mengulang langkah yang tak berubah.
Malam menutup, seperti selimut yang akrab.
Mesin terus berputar, tidak berhenti.
Aku terdiam… dalam kebisingan yang menenangkan.
Ada kenangan yang tertinggal, di antara kursi.
Ternyata, tidak semua janji harus ditepati.
Ketika listrik padam, ruang mendesah,
Seragam sekolah tergantung di kursi,
Menghadirkan kenangan pagi yang lalu,
Di balik kegelapan, lilin menyala,
Menerangi senyum yang tertinggal.
Nyala kecil itu menari, menari di udara,
Menggambarkan bayang-bayang yang tak ada,
Baju seragam berkisah tentang perjalanan,
Yang tak bisa disentuh, namun terasa,
Seolah waktu berhenti sejenak.
Di sudut yang tak terjangkau, aku melihat,
Kehilangan adalah ruang tanpa batas,
Tempat cinta tak bisa menjawab,
Hanya lilin yang terus membara,
Mengajarkan kita arti dari gelap.
Kucing hitam itu berlalu di jalanan sepi,
aku memandang dari jendela yang tinggi,
langit merah muda merangkak pelan,
suara adzan magrib memanggil dari kejauhan,
seolah mengingatkan pada batas waktu,
tapi kucing itu terus berjalan tanpa ragu
Di balik tirai, harapanku mengintip,
kucing itu menoleh, sejenak berhenti,
lalu melanjutkan langkahnya,
aku tersenyum, paham akhirnya,
tidak semua harus pulang,
tidak semua harus dimenangkan
