puisi tentang perjalanan diri
-
Kipas dan Suara Magrib
Kipas berputar, rambutku kering
Aku mendengar adzan dari kejauhan
Ragu mengendap di sela helaianAngin membawa bisik kehilangan
Aku menyaksikan, tanpa suara
Tersesat, namun kini tahu arah
-
Warung Kopi di Persimpangan
Di jalan yang ramai, kita berhenti sejenak
Di depan warung kopi pinggir jalan
Aroma menggoda, menyeruak di udara
Menyapa kita yang mencari arahTanya pada mereka yang duduk diam
Namun jawaban hanya angin berlalu
Kita tersenyum, meski arah tak tentu
Ada hangat dalam kebersamaanLangkah kita menyusuri jalan yang salah
Tak ada penunjuk, hanya ragu
…
-
Sendal Jepit di Dekat Pintu
Di bus malam yang melaju, aku duduk tenang.
Lalu menyadari dompet tertinggal, tertinggal di kursi.
Suara mesin berderu, mengulang kisah yang sama.
Sendal jepit di dekat pintu, menanti langkah pulang.
Di luar jendela, bintang-bintang berkelip samar.
Ada jeda… dalam pikiran yang beriak.
Mengingat janji yang pernah terucap.Sendal jepit itu, setia menanti.
Aku mengulang, mengulang …
-
Cahaya Lilin di Tengah Gelap
Ketika listrik padam, ruang mendesah,
Seragam sekolah tergantung di kursi,
Menghadirkan kenangan pagi yang lalu,
Di balik kegelapan, lilin menyala,
Menerangi senyum yang tertinggal.Nyala kecil itu menari, menari di udara,
Menggambarkan bayang-bayang yang tak ada,
Baju seragam berkisah tentang perjalanan,
Yang tak bisa disentuh, namun terasa,
Seolah waktu berhenti sejenak.Di sudut yang tak …
-
Suara Adzan Magrib
Kucing hitam itu berlalu di jalanan sepi,
aku memandang dari jendela yang tinggi,
langit merah muda merangkak pelan,
suara adzan magrib memanggil dari kejauhan,
seolah mengingatkan pada batas waktu,
tapi kucing itu terus berjalan tanpa raguDi balik tirai, harapanku mengintip,
kucing itu menoleh, sejenak berhenti,
lalu melanjutkan langkahnya,
aku tersenyum, paham akhirnya,
tidak semua …
