Malam merayap masuk tanpa suara,
seperti pesanmu yang kubaca ulang,
huruf-huruf kecil berderet ragu,
jam dinding berhenti di angka dua belas,
menyimpan waktu yang tak bergerak.
Kata-kata kita melayang,
dalam ruang yang tak berujung,
menghidupkan kembali harap,
yang dulu kita bisikkan pelan,
sebelum pagi menghapus jejaknya.
Aku berbicara pada masa lalu,
tanpa menuntut jawaban pasti,
seperti hujan yang datang,
membasahi tanah dengan cerita,
yang tak lagi bisa kita ulang.
Di ujung malam, kutemukan tenang,
di antara rindu yang mengalir,
dalam hening yang memeluk erat,
mengajarkanku melihat kehilanganku,
dengan senyum yang tak lagi gentar.
