Tumpukan bayangan, kayu retak,
lewat jendela kaca yang samar,
kepingan senja diam membisu.
Angin malam mengangsur jarinya,
atas mimpi yang dikejar-kejar.
Di tembok, paku bersaksi sunyi
pada dinding yang menghirup gelap.
Langkah kaki kecil, tanpa suara,
melewati ruang penuh gaung cerita.
Ada gema, nyala redup di sudut.
Beranda melihat semua apartemen,
butir-butir debu menyinggah pagi.
Segaris cahaya menetes lembut,
dan langit menyeka luka malam.
Dengan tenang tangan menggema,
lapisi waktu dalam selubung karat.
Cahaya bulan berbicara di penjara kaca.
Tiang baja, rumput, detak jam tua.
Entah kemana bisikan angin kabut?
Langit, menatap dengan senyum diam,
lalu berderit pelan, berpijar pada pusara.
