Di tepi pantai yang sepi
Seorang pencari menatap ombak berlari
Ia sabar menunggu jejak yang samar
Namun kau keliru sahabat…
Jika mengira aku sekuat itu
Justru karena tak mampu menahan rasa
Aku selalu menumpahkannya di pasir yang basah
Dan sementara di langit
Waktu terus mengguratkan cerita tak berujung…
Tag Puisi: cinta yang terabaikan
-
Jejak di Pasir
-
Hening yang Terluka
Kadang seseorang memilih untuk tertawa,
Hanya agar tak perlu mengungkapkan kesedihan yang menganga…
Apakah kerinduan masih kau simpan,
Meski kau sembunyikan dalam-dalam atau kau tenggelamkan dalam lautan…
Tentangmu,
Adalah pagi yang selalu membawa harapan dan tentangku,
Hanyalah malam yang terjebak dalam sunyi…
Dan di dalam hatiku, puan,
Ada hutan pinus tempat kau tanam semua kerinduan,
Hingga rasa ini menunggu kau petik satu per satu…
Mungkin kesepian tercipta sebagai ruang hampa,
Tempat kerinduan datang saat senja,
Mungkinkah…
-
Menyusuri Jejak yang Hilang
Biarkan kenangan berlayar di lautan tanpa batas
karena harapan, taruhan terukir dalam pilihan
-
Jejak di Langit
keterasinganmu sering menghapus jejak
yang kutoreh dalam hening malam
mengalirkan setiap detak jantungku
saat mengingat senyummu yang kau ukir
pada langit biru dengan bintang terindah
yang selalu menyiram kisah yang kutanam dalam bait
kuakhiri sajakku bukan karena tak peka
menyimak keadaan, maaf, berita datang terlalu mendesak
menjadi alasan mengapa sinyal yang kutinggalkan
berakhir dengan terlalu nyata
menghangatkan setiap relung jiwa
menyudahi dirimu dalam ingatan
hadirlah dengan seribu pahlawan di sampingmu,
hadirlah dengan ribuan cahaya di balik pesonamu
dan takkan mundur aku dari para pejuang yang menyusup
pada setiap helaian rambut dan desah napasmu
akan kupadamkan kenangan yang kau gores
melalui embun pagi yang menetes di kedua matamu
yang sering membuat para pahlawan terjatuh di medan perang
dengan cepatnya panah yang akan membakar bumi;
dengan api dari jiwa yang tak pernah padam
dan betapapun aku tak diinginkan dunia,
dengan mahir, aku mampu memadamkan hasrat
meski masih serupa benih harapan cukup dengan seuntai cerita
tentang redupnya bulan sebagai tanda bahwa
selalu ada kekuatan untuk menghapus sajak-sajakku
bagi para dewi penghuni angkasa
maka, akan kuterima dengan tangan terbuka
dengan rasa yang paling lapang dalam dada
sumpah serapah seluruh umat manusia
karena akulah Ardalepa; pahlawan abadi
yang hanya akan mati karena keinginanku sendiri.
-
Di Balik Gemuruh
Terjepit dalam hiruk-pikuk
Di tengah sorak-sorai bazar
Seribu wajah berseri ceria
Seribu suara mengalun merdu
Menggempur lebih dari dentuman
Menggempur lebih dari badai
Yang menderu mengguncang
Kuyakin pasti terasa
Kuyakin pasti terungkap
Rasa ini terus membara
Walaupun terjepit dalam hiruk-pikuk
-
Kepingan yang Hilang
Seperti angin kencang yang menerpa jiwa
tak pernah bisa terhentikan lagi
mengguncang hingga relung hati
tempat aku ukir harapan kita
Aku hanyalah debu yang terbang
ingin aku ungkapkan kepedihan ini
namun, kau seolah tak mendengar
tak mampu kusatukan lagi serpihan rasa
-
Ketika Hening Menyapa
Ketika hening menyapa
Tak lagi kudengar denting itu..
Saat mengurai rasa dalam bait
Saat jiwaku terbenam dalam lautan kata
Tak lagi kutemui jejak-jejak kasih dan indahnya kalimat yang merangkum rasa..
Semuanya perlahan sirna
Semuanya perlahan membeku dan pudar
Saat cahaya redup dan terputus jiwaku
Saat bisu lidah yang biasa penuh akan harmoni kata
Bait..
Bait..
Hilanglah tanpa jejak
Yang siangnya tak lagi cerah
Dan malam tak lagi bergetar
Mungkin bait itu masih di sana
Hanya tertutup hati yang lapuk
Atau mungkin bait itu telah lenyap
Ditelan raga yang sudah terlalu letih
Tak ada yang lebih pilu dari ini..
Penyair yang tak lagi mampu ungkapkan suara jiwa dengan bait rindunya
Seperti jiwa yang kosong tanpa nada
Seperti hati yang mulai redup
