jika kau berada di sana dan memikirkan aku
serta berharap aku segera melangkah
menghapus jejak air mata kerinduan yang tak sirna
maka wujudkan sungai
yang mengalir di antara bebatuan
atau suara burung hantu
dan riak air yang bergetar lembut
bahwa aku menyusup
dalam tiap kata dan celah jari-jarimu yang anggun
membawa buah ceri yang manis
hingga tulisan yang kau pegang
lalu kau gores bisa kau rasakan
semanis ceri yang dipetik
para penjaga hutan yang selalu setia
pada puisi.
jemput dan hapus kerinduanmu itu
dengan sekali pelukan
lalu kita akan mengalirkan rasa
dengan perasaan yang paling ceria
membuat dewi asmara pun terpesona
dengan cemburu yang menyala
dan menyusup pada relung hatinya.
Tag Puisi: puisi tentang kerinduan
-
Sungai yang Mengalir Rindu
-
Cahaya Senja
Dua cahaya senja adalah sinar yang hangat
Dua cahaya senja berbicara dalam bisu yang dalam.
Rindu bukanlah hanya milik malam yang kelam
Keduanya sama paham, keduanya takkan surut.
Dua cahaya senja terbenam di langit yang cerah
Keindahan tanpa hiasan, tanpa gemerlap.
Dua cahaya senja adalah pelabuhan yang tenang
Secangkir teh di sore hari dan cerita yang terpendam.
-
Bulan yang Terlewat
Wahai bulan yang merindu,
Dalam sepi aku hanya menyimpan harap yang terikat,
Itupun jauh dari jalur takdir yang selalu kupegang erat dan pada akhirnya mencintaimu dalam doa yang tak henti kuucap…
Entah mimpi apa yang akan dibawa angin malam padaku,
Yang pasti aku berharap kau hadir di dalamnya,
Selamat malam,
Kekasihku,
Selamat beristirahat untukmu…
Kau tahu rindu,
Perasaan yang berkilau hangat di dalam jiwa,
Saat embun menari di sekelilingku dan tak kunjung membawa kabar tentangmu…
-
Bulan yang Menggenggam Rindu
setiap bintang yang berkelip menyimpan cerita yang takkan pudar saat malam menjelma.
seperti malam ini, bulan di langitmu kembali menari di atas bayang-bayang yang kita ukir dan setiap jalan setapak akan mengalirkan ingatan yang pernah kita lalui saat aku melangkah sambil mengingat detik-detik indah kita bersama tawa yang menyatu dalam waktu.
lagu yang merindukanmu seperti pasir yang terhempas ombak dan mengalir lalu membawaku kembali ke pantai, tempat seharusnya kita berbisik menuju cakrawala.
duhai bintang malam, hatiku yang kini tak lagi utuh tak ingin dipandang iba sebab menantimu untuk sejenak cukup menjadi bara bagaimana caraku ingin merangkul kenangan itu.
tunggulah malam ini, dengan sehelai kain, akan kutenun ungu dari jiwaku yang terkurung dalam kerinduan akan keberadaanmu.
dan jika aku bertemu lagi denganmu yang kini serupa ilusi, maka akan kutuntaskan rasa ini dengan memintamu jangan pergi, untuk sekali saja.
-
Sajak Sang Pelaut
Di setiap bait sajak terukir rasa yang mendalam;
Yang teramat menggoda dan menawan bagi seorang pelaut;
Yang seharusnya telah lama berlayar dalam kesunyian samudera;
Dalam larik-larik sajak ia lukiskan setiap keindahan;
Yang terpancar dari sinar bulan dan gelombang laut;
Seiring pertanyaan akan sepi yang menyelimuti jiwa;
Lalu ia putuskan untuk kembali menelusuri gelombang;
Membuka lebar-lebar jendela hati yang telah lama tertutup;
Seperti ombak yang terus berdesir;
Walau tiada satu pun bintang yang tahu rahasia kita;
Dan pelaut itu kembali menulis sajak;
Akan tiba saatnya jua;
Ketika rasa terikat di pelukan lautan;
Yang secara samar mempermainkan takdir;
Laksana sebuah lukisan abstrak yang penuh makna;
Laksana sepenggal melodi ombak tak terduga;
Seorang penyair melantunkan sajak rindu dalam hembusan angin;
Ia ingin menjadi seberkas cahaya, untuk terus bisa menerangi gelap malam;
Ia ingin menjadi embun pagi, agar mampu menyegarkan jiwa yang lelah;
Ia ingin menjadi aliran sungai, agar bisa menghapus segala duka dan luka;
Namun ia bukanlah siapa-siapa yang memiliki kendali atas lautan;
Ia hanyalah seorang pelaut yang selalu ada dan mendamba lautan;
Berapa banyak lagi sajak rindu yang akan lahir dari penghayatan rasa pelaut ini?
Berapa banyak lagi lautan yang akan lahir dari rahim sajak pelaut ini?
Atau mungkin wajah penuh kerinduan dan harapan yang akan terlukis di wajah pelaut ini?
Atau bisa jadi hati penuh gelora yang akan ada di hati pelaut ini?
Tapi bukankah kita terlahir untuk sebuah tujuan;
Seperti cinta yang tumbuh bersama dengan gelombang waktu yang tak terduga;
Lautan itu merupakan samudera yang mengalir di hati pelaut ini;
Pelaut itu pun menghentikan sajaknya;
Melangkah menghitung detik yang menimbun kerinduan tanpa suara;
Memang tak perlu lagi ada tanya tentang berapa, apa dan bagaimana;
Hingga waktu bertanya dalam bahasanya, sampai di manakah kapal ini akan berlayar?
Memecah kerinduan menuju pelabuhan asal.
-
Seribu Bintang
Seribu bintang menghias malammu,
Seperti seribu harapan berkelip di angkasa,
Cahaya,,terpesona,,hingga kata-kata tak mampu terucap,
Sehelai awan dan setetes hujan,
Kata-kata itu membuatku terdiam,
Apakah ini yang dinamakan kerinduan,
Kerinduan akan kehangatan,
Kerinduan akan sentuhan kasih yang tak kunjung datang,
-
Kembang Kertas
Di tengah malam yang sunyi
Ku tatap kembang kertas merah
Walau hanya sekejap, sinarmu bersinar
Menggugah jiwa dalam lamunan
Sekali lagi kutoreh biru langit
Menggambarkan sosok dalam ingatan
Lalu kuungkapkan tentangmu dalam baitku
Itulah puan, saat rindu merasuk ke kalbuKembang Kertas 2
Bagaimana mungkin ku sembunyikan rindu
Saat ia terus bergetar tak henti
Bagaimana bisa ku berhenti menuliskanmu
Jika senyummu seperti kembang kertas kuning
Dan sesekali kutoreh biru langit
Menggambarkan sosok dalam ingatan
Lalu kuungkapkan tentangmu dalam baitku
Itulah puan, saat rindu merasuk ke kalbuKembang Kertas 3
Kini harumnya bercerita,
Di jatuhnya kembang kertas dari ranting,
Di gelapnya malam yang merayap,
Bisiknya,
Ada rindu yang terhampar,
Yang tak sempat terucapkan,
Ia hanya terdiam,
Sesekali melayang,
Meski jelas tanpa arah,
Dalam harumnya,
Dalam hangatnya,
Dalam pekatnya,
Terjalin manisnya kisah
-
Sisa Angin Senja
Di ufuk yang merona jingga,
Apakah kau mendengar bisikan-bisikan hangat yang tak pernah berhenti membahas kerinduan…
-
Rindu dalam Embun
Tiada yang mengerti keheningan tanpa suara;
Tiada yang melupakan saat embun menetes;
Ia yang hanya meresap dalam kesunyian yang hampa;
Ia yang menanti kehadiran pagi yang cerah;
Terberkatilah wahai bunga yang merekah;
Terberkati jualah jiwa yang menanggung rasa;
Meneteslah wahai harapan dari dedaunan;
Terlepaslah apa yang seharusnya terlepas;
Apakah mungkin ini hembusan kerinduan;
Yang terkurung dalam pelukan kenyataan?
Ataukah ini sekadar serpihan perasaan;
Yang terjebak di antara suka dan duka?
Yang masih belum terucapkan;
Biarlah ia tetap pada tempatnya;
Yang masih belum terungkap;
Biarlah kelak ia menjadi misteri;
Wahai kasihku dengarlah bisikan embun itu;
Wahai manisku hiruplah segar embun itu;
Jadilah penawar dalam hadirnya embun itu;
Dan biarlah aku terus terasing dalam embun itu.
-
Kedamaian dalam Hujan
Tiada yang lebih menenangkan
dari hujan yang kau nyanyikan
dengan nada rindu
yang teramat dalam
membuat jiwaku terikat
Hingga kesedihan yang
seringkali menghantui
pergi tanpa jejak
menuju ruang yang lebih terang.
