Di depan kipas, rambut terurai
angin berbisik lembut di sela helai
pikiran melayang, menari bersama
di atas tikar yang digelar rapi
di ruang tamu yang sunyi
menatap seseorang di seberang
dan merasa tatapan itu kembali
Hangat seperti air mata lama
kenangan mengalir tanpa suara
seperti aliran sungai di musim kemarau
mengingat hari-hari yang berlalu
menggenggam rasa yang pernah ada
namun tak lagi bisa dimiliki
hanya bisa dirasakan dalam hati
Angin kipas terus berputar
membawa pesan dari masa lalu
bahwa cinta bukan tentang memiliki
tapi memahami arti keberadaan
seperti tikar yang setia terhampar
di ruang tamu yang tak pernah sepi
menjadi saksi bisu setiap cerita
