puisi tentang kesedihan tersembunyi
-
Jendela dan Bau Tanah
Angin membawa aroma tanah basah
menembus celah jendela setengah terbuka,
kuhentikan langkah, sendal jepit di pintu
seperti menahan napas, menahan ingatan
yang tak ingin kuingat lagi.Di luar, pohon-pohon berbisik resah
satu-satu daunnya gugur, lembut
seperti perasaan yang ingin kusembunyikan,
hawa dingin menyusup ke dalam
seolah tahu rahasia yang ingin kusimpan.Menutup jendela dengan tangan …
-
Detak Jam di Ruang Gelap
Kau dengar detak itu, kan?
Kau dengar tiap detik menusuk?
Di ruang ini, gelap memeluk erat,
papan nama toko di luar sana pudar,
seperti harapan yang terlupa.
Aku duduk, mendengar, merasa
marah yang samar, namun tertahan.Jam dinding terus bicara,
jam dinding terus menyiksa,
mengukur waktu yang tak peduli
pada luka yang tak terlihat.
Aku …
-
Newspaper on the Coffee Table
The sun pours through the window,
a newspaper rests, pages slightly curled.
Words pause, like breaths held,
on the woven mat, stories unfold.An empty cup, its warmth a memory,
echoes of conversations linger.
In the silence, headlines whisper,
tracing paths of long-gone laughter.Between lines, a quiet reflection
rests on the surface, yet unseen.
…
-
Kursi Tunggu dan Detik Jam
Kursi tunggu di pojok ruangan, sunyi,
sunyi seperti detik jam yang berdetak,
berdetak di tengah pikiran yang gaduh.Gemeretak kayu, seolah berbisik,
berbisik cerita lama yang terlupakan,
terlupakan di bawah cahaya lampu redup.Tersisa hanya waktu menari perlahan,
perlahan aku sadari, kesedihan ini,
ini tak perlu tuntas untuk dilepaskan.
