puisi tentang menerima diri
-
Cermin Pagi dan Papan Nama
Menyisir rambut di cermin kabur,
pagi berbisik lewat jendela terbuka.
Catatan lama tergeletak di meja,
menyimpan cerita yang tak semua manis.Garis miring memisah antara kalimat,
seperti jarak antara kemarin dan hari ini.
Papan nama toko di ujung jalan,
pudar oleh waktu, tetap berdiri.Ragu menyelinap saat rambut terurai,
satu demi satu helai jatuh.
Membaca …
-
Langkah di Depan Pintu
Di ruang tunggu sepi, aku duduk diam
Baju seragam sekolah tergantung di kursi
Langkah-langkah berhenti di depan pintu
Membawa pesan yang tak terucapMenghitung detik yang berlalu perlahan
Dinding putih jadi saksi bisu
Ada rasa yang harus kuampuni
meski tak pernah dimengerti
-
Cermin Kabur Pagi
Di pagi yang menggantung
di rambut kusut
cermin kabur menyimpan rahasiaSenyum tipis mengiringi
gerobak nasi goreng lewat
mengusir sunyi yang merayapDalam mimpi tersimpan
bimbang yang bergetar
menyisir pelan, menahan tangisRetak cermin mengungkap
keindahan tersembunyi
senyum yang kembali utuh
-
Cermin Kabur Pagi Hari
Embun pagi menyelimuti kaca,
jemari menyisir rambut kusut.
Suara dari kamar sebelah,
membawa cerita tanpa jawaban.Ember air menunggu di sudut,
mengisi kamar mandi dengan kesunyian.
Gengsi tersisa dalam bisik,
menyusuri helai yang ingin bebas.Langit mulai menampakkan warna,
tanpa ragu, tanpa perlu kembali.
Rindu terurai seperti rambut,
tak harus selalu pulang.
-
Map di Meja Resepsionis
Mata bertemu, senyum tipis.
Map di tangan, kertas berisi harap.
Langkah menuju meja,
suara anak-anak,
petak umpet di kejauhan.
Tanya dalam hati,
akan diterima, atau tidak.Resepsionis ramah,
ucap selamat pagi,
suara lembut,
mengisi ruang.
Map di meja,
ragu mengintip,
dari retak, keindahan tumbuh.
