Menyisir rambut di cermin kabur,
pagi berbisik lewat jendela terbuka.
Catatan lama tergeletak di meja,
menyimpan cerita yang tak semua manis.
Garis miring memisah antara kalimat,
seperti jarak antara kemarin dan hari ini.
Papan nama toko di ujung jalan,
pudar oleh waktu, tetap berdiri.
Ragu menyelinap saat rambut terurai,
satu demi satu helai jatuh.
Membaca kembali dengan getir,
mengenang tawa yang pernah ada.
Cermin memantulkan wajah yang sama,
namun tak semua harus dimenangkan.
Seperti papan nama yang pudar,
tak hilang, hanya berubah.

Leave a Reply